Home Nasional Opini dan Kritik Gebuk Nalar Mentok Sandiaga, Polisi Sebut Kemacetan Tanah Abang Naik 60 Persen

Gebuk Nalar Mentok Sandiaga, Polisi Sebut Kemacetan Tanah Abang Naik 60 Persen

178
0
SHARE

Berdasarkan pengamatan kami, 60 persen mengalami kenaikan (kemacetan)… Kami harapkan, setiap hari, setiap saat dikaji kembali kebijakan tersebut sehingga fungsi jalan kembali secara normal…” ujar Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Halim Pagarra di Mapolda Metro Jaya, Jumat (26/1/2018). Statement Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Halim Pagarra dapat diakses di sini.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Halim Pagarra mengatakan bahwa dari pengamatan mereka, penutupan jalan Jati Baru Tanah Abang, membuat kemacetan sekitar lokasi naik 60 persen.

Hal ini bertolak belakang dengan apa yang dikatakan oleh instruktur fitness Sandiaga Uno. Jadi siapa yang kalian percaya? Si instruktur fitness atau polisi? Siapa yang tukang tipu?

Berbicara mengenai validitas data yang diambil dari Polisi dan instruktur fitness, kita tentu tahu dan bisa langsung menyimpulkan bahwa data pihak kepolisian jauh lebih valid. Lagipula, data yang diambil dari Waze bisa menipu dan tidak valid.

Saya membayangkan pada saat pengambilan data, pengguna Waze bisa saja merupakan orang-orang yang diminta untuk mengklik “iya”. Sebut saja mereka dengan panggilan buzzer.

Apakah saya mengatakan keberadaan buzzer adalah sebuah analisis prematur? Rasanya tidak. Kita melihat bagaimana Prabowo bisa menang di 2014 oleh beberapa lembaga survey yang dianggap kredibel. Saya rasa, mereka dapat disebut sebagai buzzer.

Berapa ya kira-kira biaya untuk membuat lembaga survey kredibel, bisa memaparkan data yang salah? Jika memang sangat mahal, pantas saja Prabowo begitu merasa tersakiti secara terstruktur, sistematis, dan masif. Hahaha.

Mari kita lihat statement Sandiaga Uno, seorang wagabener rangkap instrtuktur fitness. Apa yang dikatakan oleh Sandiaga benar-benar bertolak belakang dengan apa yang dikatakan oleh pihak kepolisian. Apakah Sandiaga Uno merupakan seorang penipu ulung?

“Tetapi ternyata ada penurunan (kemacetan) yaitu sekitar 56 persen dibandingkan hari-hari yang sama pada minggu-minggu sebelumnya… Jadi untuk yang mendukung di media sosial, yang menyebut ini (penataan Tanah Abang) adalah langkah brilian Anies-Sandi, jangan senang dulu, jangan euforia dulu. Karena ini tidak valid juga datanya, karena kita masuk ke masa liburan. Jadi, data were not lie, data is fair…” ujar Sandiaga wagabener rangkap instruktur finess, di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (29/12/2017). Sumber kalimat Sandiaga Uno dapat dilihat di sini.

Penutupan jalan yang dilakukan oleh dinas perhubungan di bawah pemerintah provinsi DKI Jakarta dianggap mengakibatkan kepadatan lalu lintas di jalan Fachrudin sampai dengan Tomang dan Slipi sampai dengan Tanah Abang. Jadi memang benar apa yang dikatakan oleh Sandiaga, jalan di Jatibaru benar-benar jadi kosong dan sisanya menjadi sangat macet.

Jatibaru menjadi tempat yang ditutup untuk 400 PKL. Dengan keberadaan 400 PKL, ribuan pengguna jalan dikorbankan dan ribuan pejalan kaki jadi kesulitan melalui jalanan tersebut. Saya curiga, si wakil gubernur rangkap instruktur fitnes dan gubernur magang membuatkan KTP untuk para warga yang diluar Jakarta, dan hal ini akan menjadi kecelakaan besar di Jakarta.

Bukannya mendorong orang untuk ruralisasi alias pergi ke desa, kedua badut Jakarta ini malah mengumpulkan orang-orang di Jakarta yang sudah super padat ini dengan cara impor becak dari luar kota.

Memang sekilas, terlihat hal ini adalah bentuk keberpihakan kepada wong cilik, namun secara esensi, keberpihakan mereka ini justru membawa petaka bagi wong cilik. Bayangkan saja para pengayuh becak dibiarkan dijemur di tengah jalan ibu kota, selain mereka kepanasan, mereka juga akan dimaki-maki oleh para pengguna jalan karena menutup jalan sembarangan.

Sebut “Jakarta rumah bagi semua”, justru dua badut ini malah membuat Jakarta menjadi rumah bagi para preman dan orang-orang tidak jelas yang akan lalu lalang di Jakarta. Saya semakin rindu dengan sosok Ahok, yang meskipun keras, ia benar-benar merupakan orang yang berpihak kepada warga Jakarta.

Warga Jakarta, khususnya yang 58 persen sekarang sudah mulai sadar, bahwa Anies tidak becus memimpin Jakarta. Anies ditenggelamkan oleh janji-janji politiknya. Ia terlihat semakin kurus. Sedangkan Sandi mulai tidak jelas sehingga harus mandi di kantor gubernur, bahkan sampai ditutup tirai.

Betul kan yang saya katakan?

Ditulis Oleh Hans Sebastian Di Seword.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here