Home Nasional Prabowo Ingin RI Setop Semua Impor, Yakin Mau?

Prabowo Ingin RI Setop Semua Impor, Yakin Mau?

91
0
SHARE
Prabowo
Prabowo

Jakarta – Pernyataan calon presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto menarik perhatian publik. Dia berjanji, tidak akan impor apapun jika terpilih di tahun depan. Prabowo ingin Indonesia berdiri di atas kaki sendiri.

“Saya bersaksi di sini, kalau Insya Allah saya menerima amanat dari rakyat Indonesia, saya akan bikin Indonesia berdiri di atas kaki kita sendiri! Kita tidak perlu impor apa-apa. Saudara-saudara sekalian! Kita harus dan kita mampu swasembada pangan! Mampu!” kata Prabowo di GOR Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (4/11/2018)

Keinginan lepas dari impor tak sekali dilontarkan Prabowo. Saat bertemu dengan relawan Rhoma Irama, dia juga mengatakan tak akan impor. Menurutnya, impor menghancurkan rakyat Indonesia seperti petani.

Lantas bisakah Indonesia lepas impor? Apa dampaknya ke Indonesia? Berikut berita yang dirangkum detikFinance:

1. Barang yang Diimpor Indonesia 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) bulan September 2018, neraca perdagangan Indonesia surplus US$ 227 juta. Angka ini terdiri dari realisasi ekspor US$ 14,83 miliar dan impor US$ 14,60 miliar.

Impor September sebesar US$ 14,60 miliar turun sebanyak 13,8% dibanding Agustus 2018. Namun, sepanjang tahun atau Januari hingga September 2018 meningkat 23,3% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan terjadi pada impor migas dan non migas dengan masing-masing US$ 4,7 miliar (27,14%) dan US$ 21,54 miliar (22,64%). Peningkatan impor migas disebabkan oleh naiknya impor seluruh komponen migas, yakni minyak mentah (40,51%), hasil minyak (22,53%) dan gas (17,8%).

Sedangkan impor non migas, terjadi peningkatan pada 10 golongan barang HS 2 digit selama periode Januari-September 2018. Barang-barang tersebut di antaranya mesin dan pesawat mekanik (16,89%), mesin dan peralatan listrik (13,59%), benda dari besi dan baja (2,49%), serealia (2,45%) dan ampas atau sisa industri makanan (1,91%).

Kemudian ada perhiasan/permata (1,68%), bubur kayu atau pulp (1,16%), filamen buatan (1,12%), buah-buahan (0,78%) dan kakao atau coklat (0,47%).

Untuk September 2018 sendiri, golongan buah-buahan mengalami peningkatan impor tertinggi yakni US$ 42,2 juta atau 66,46%. Selanjutnya adalah cokelat atau kakao yang meningkat 50,58%, dan serealia sebesar 15,31%.

2. Dampak RI Setop Impor 

Ekonom dari Universitas Indonesia Fithra Faisal menerangkan, impor merupakan bagian yang tak terlepaskan dari industri yang merupakan bagian dari dari perekonomian. Saat ini 90% bahan baku maupun barang modal industri dipenuhi dari impor. Artinya, lanjut dia, jika impor disetop maka industri tidak berproduksi.

“Kalau setop impor berarti tidak bisa berproduksi, karena 90% kebutuhan industri dari impor,” kata dia kepada detikFinance, Senin (5/11/2018).

Dia mengatakan, masalah Indonesia saat ini ialah defisit transaksi berjalan. Defisit transaksi berjalan sendiri bisa diselesaikan dengan mendorong ekspor. Kembali lagi, dia mengatakan, untuk mendorong ekspor perlu adanya barang-barang impor tersebut.

“Kemudian untuk boosting ekspor dari barang-barang kebutuhan impor tadi yang mana 90% justru untuk industri, yang pada akhirnya bagian tak terpisahkan ekspor,” ujarnya.

Sebab itu, dia mengatakan, merupakan hal yang mustahil menyetop impor. Sebab, impor bagian dari perekonomian nasional.

“Jadi sekali lagi apakah impor bisa 0 kan hampir nggak mungkin bahkan mustahil di negara manapun yang tidak impor,” ujarnya.

Selain itu, dia mengatakan, impor juga menjadi solusi untuk mengontrol harga. Sebab, kapasitas produksi di masing-masing negara berbeda. Di sektor pangan misalnya, impor diperlukan untuk mengontrol harga saat ada gangguan produksi.

“Memang, jadi itu kan sektor pangan sendiri dari macam-macam item, dalam konteks itu walaupun unggul sektor ini tapi tidak semuanya bisa kemudian diproduksi di Indonesia. Apalagi bicara dinamika perjalanan supply dan demand di mana produk pangan sangat rentan cuaca dan lain-lain. Impor bisa berfungsi sebagai buffer menstabilkan harga,” tutupnya.

3. Tak Ada Negara Lepas dari Impor 

Ekonom dari Universitas Indonesia Fithra Faisal menuturkan, saat ini tidak ada negara yang benar-benar lepas dari impor. Negara seperti Kuba dan Venezuela saja tak lepas dari perdagangan internasional tersebut.

“Nggak ada (yang tidak impor), udah nggak ada lagi. Kuba juga terbuka. Mencoba tertutup seperti Venezuela, seperti kita lihat krisis ekonomi. Venezuela pun sebenarnya ketika menutup diri, tidak serta merta 100% tertutup, tetap partnership dengan negara lain, komunis sosialis, mereka menghindari Amerika,” kata dia.

Dia mengatakan, impor dilakukan karena tidak ada negara bisa mencukupi kebutuhannya sendiri. Sebab itu, impor dilakukan.

“Karena tidak bisa memproduksi semua sendiri, karena resources terbatas,” ujarnya.

Lebih lanjut, untuk mengurangi efek negatif dari impor cara terbaik ialah menentukan prioritas sumber daya yang dikembangkan.

“Dengan resources terbatas harus menentukan skala prioritas, berdasarkan sektor yang unggul secara komparatif. Kalau bicara perdagangan internasional, metode tidak langsung produksi. Kita bisa fokus yang unggul, kita bisa ciptakan surplus, dari prosesnya yang kita impor,” ujarnya.

4. Paling Rasional Kurangi Impor 

Menanggapi wacana setop impor, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan, yang memungkinkan dilakukan ialah mengurangi impor.

“Untuk saat ini nggak bisa dibikin model tertutup. Konsep yang paling rasional menjaga impor dalam level kecil,” kata dia kepada detikFinance, Senin (5/11/2018).

Dia menerangkan, negara seperti Rusia mengupayakan pengelolaan ekonomi secara mandiri. Namun, pengelolaan ekonomi itu tidak benar-benar tertutup.

“Dia me-maintain ekonomi dalam negeri internal mulai produksinya, segala macam, hampir belum terlalu terbuka, kecuali hal-hal tertentu peralatan perdagangan militer, minyak,” ujarnya.

Dia mengatakan, momen Piala Dunia sendiri menunjukkan jika Rusia tidak menutup peluang kerja sama dengan negara-negara lain.

“Dengan momentum Piala Dunia dia ingin menunjukkan ke dunia negara yang relatif terbuka dan menerima negara lain untuk kerja sama,” ujarnya.

Menurut Eko, Indonesia lebih baik bekerja sama dengan negara-negara lain. Tapi, kerjasama itu harus saling menguntungkan.

“Artinya menurut saya yang lebih baik tetap menjadi terbuka, kita mau kerjasama dengan negara lain. Tapi memang yang saling menguntungkan. Percuma nggak pernah impor, tapi negara lain nggak pernah mau menerima ekspor kita,” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here