SHARE

Sebagai saksi, seharusnya mereka benar-benar berlaku secara adil. Seharusnya mereka berbicara apa adanya, bukan melalui briefing yang dilakukan sebelum-sebelumnya. Penulis tidak ingin mengatakan bahwa saksi 02 ini sebelumnya dipersiapkan terlebih dahulu untuk sesuatu yang seolah-olah tidak sesuai dengan apa yang terjadi.

Mungkin sebagai saksi, tugas mereka hanyalah memberikan informasi dan opini tentang apa yang mereka rasakan, sejujur-jujurnya. Sebagai saksi, seharusnya mereka bisa memilih saksi yang profesional dan bisa menjelaskan apa yang terjadi di lapangan. Untuk kasus ini, penulis jujur saja tidak bisa melihat sisi profesionalitas dan keakuratan dari kesaksian mereka. Banyak sekali kesaksian yang mengambang dan tidak mendarat. Beberapa kesaksian bahkan perlu diberikan assist oleh Mas Bambang yang bahkan nyaris diusir oleh hakim MK. Kenapa? Karena BW seolah-olah ingin menginterupsi dan tidak rela bahwa saksinya dicecar.

Kalau saksi tidak dicecar, bagaimana mau mengorek kebenaran? Dicecar itu bukan sesuatu yang buruk. Dicecar pertanyaan dan diulang-ulang bahkan diinterupsi oleh hakim, adalah hak prerogatif hakim MK. Di sinilah mereka seolah-olah gamang dan tidak siap dengan segala pertanyaan, sampai perlu dibela-bela seperti itu oleh si Bambang yang sok jadi seperti Soekarno saat lewat pagar berduri.

Ngomong-ngomong, dulu di era Bung Soekarno, tidak ada dia sampai berjuang masuk lewat kawat berduri. Mungkin saat itu, Bambang hanya halusinasi.
Kembali ke saksi, kita bicara saksi yang harusnya kredibel dan bisa dipertanggungjawabkan. Penulis agaknya melihat bahwa saksi itu memang tidak memiliki kapabilitas dalam menjawab. Banyak jawaban mereka berdasarkan opini mereka sendiri, bukan berdasarkan fakta lapangan. Ketika berbicara fakta lapangan pun, mereka malah sering mengatakan lupa, lupa dan lupa. Kalau lupa, ingatnya apa dong? Kuncinya? Mirip lagu dong? Apakah mereka sadar kalau mereka disumpah demi nama Allah? Atau itu hanya sebatas lip service mereka? Atau tidak menganggap sumpah itu dibawa sampai mati?
Terkadang hal ini membuat penulis agak miris, mengingat saksi-saksi yang dihadirkan oleh kubu 02, sangat tidak bisa dipegang kata-katanya.

Inkonsistensi, penulis ulangi. Inkonsistensi terjadi di dalam persidangan. Ada seorang saksi yang sampai ditanya berkali-kali, dan jawabannya berubah-ubah terus. Alasannya apa? Tidak mengerti pertanyaannya. Lah? Pertanyaannya tidak berubah, mengapa jawabannya berubah-ubah? Sekali lagi penulis ingin tanya, apakah para saksi 02 menganggap serius sumpah mereka di hadapan kitab suci mereka dan Allah mereka? Karena penulis yakin, bahwa sumpah itu dibawa sampai mati.

Sumpah itu adalah komitmen. Kalau orang beragama bersumpah, tentu mereka akan serta merta melakukan sumpah itu. Kalau disumpah untuk jujur, maka di hadapan manusia dan Tuhan, orang itu harus jujur. Agama ini menjadi hal yang harus kita pahami dan maknai dengan serius. Kalau kalian pilih pemimpin yang seagama, artinya penulis asumsikan kalian serius melakukan tindakan beragama. Dari sini penulis bisa memahami bahwa seorang pemilih karena agama, adalah hal yang serius. Tapi kenapa ketika disuruh bersaksi, yang keluar adalah inkonsistensi, lupa dan tidak berdasarkan fakta yang ada? Ini adalah sebuah hal yang paling tidak boleh dikerjakan oleh orang beragama.

Berbicara mengenai jarak 50 km yang ditempuh dalam 3 jam karena jalan rusak, itu pun masih dipertanyakan. Akan ada tim survey lapangan bahkan yang ingin diterjunkan oleh hakim MK untuk mengecek kondisi di daerah Boyolali. Angka 17,5 juta suara yang katanya dicurangi, lagi-lagi tidak ada satu pun saksi yang bisa menjelaskannya secara rinci. Ini memang isu terbesar. Karena bicara tentang menang atau kalahnya kandidat, diukur dari angka, bukan dari opini belaka. Pun angkanya harus populasi, bukan angka sampel. Artinya semua 17,5 juta harus dibuktikan sampai satu per satu dijelaskan. Ini adalah hal yang harus diperhatikan oleh saksi. Atau jangan-jangan saksi tidak tahu? Jadi begini. Saksi yang dihadirkan, sampai saat ini tidak bisa membuktikan 17,5 juta suara yang dicuri itu. Artinya, mereka tidak berhasil.

Tapi kenapa yang terjadi adalah lupa, inkonsisten dan tidak berdasarkan fakta? Ini adalah sebuah hal yang harusnya menjadi perhatian kita bersama.
Kita harusnya curiga, terhadap kredibilitas saksi yang ada di kubu 02. Sekali lagi penulis ingin tanya, benarkah mereka paham arti sumpah?
Begiutlah sumpah-sumpah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here